A.
Pendahuluan
Pengembangan kurikulum secara menyeluruh
tak mungkin dipisahkan dari perkembangan sistem pendidikan nasional dalam
urutan waktu. Pengembangan kurikulum tak mungkin dipisahkan dari perkembangan
komponen yang mendasari perencanaan dan pengembangan kurikulum Komponen-komponen itu adalah : (1)
perkembangan tujuan pendidikan, (2) perkembangan teori belajar, (3)
perkembangan siswa, (4) perkembangan kultur, dan (5) perkembangan bentuk
kurikulum yang digunakan.
B.
Perkembangan
Pola Pendidikan
Dalam sejarah pendidikan, kita mengenal
terjadinya perkembangan pendidikan dalam tiga periode yakni : pendidikan
tradisional, pendidikan progresif, dan pendidikan modern. Pendidikan
tradisional senantiasa bertitik tolak pada pemikiran bahwa tujuan pendidikan
semata-mata untuk mengembangkan kualitas intelektual anak/siswa. Mata-mata
ajaran dengan buku sebagai satu-satunya sumber serta penggunaan metode formal
step sebagai satu-satunya metode mengajar, semuanya merupakan ciri khas dari
pendidikan tradisional.
Pendidikan pada zaman penjajahan dulu, sedikit
banyak meninggalkan bekas. Dalam betuk adanya kesadaran bahwa pendidikan
praktis tampaknya perlu dilaksanakan. Hal itu telah diterapkan pula dalam
sistem pendidikan dewasa ini, dalam bentuk teori dan praktek, yang tercermin
dalam kurikulum 1975.
Pada kurun waktu berikutnya, muncul
reaksi terhadap sistem pendidikan tradisional itu, yang disebut pendidikan
progresif. Dikatakan progresif karena orientasi sebelumnya. Pendidikan
dipandang sebagai suatu usaha untuk mengembangkan pribadi anak. Kebebasan mutlak
dan pengakuan sepenuhnya terhadap sang anak akan menimbulkan akibat bahwa sang
anak sesungguhnya masih perlu bimbingan secara sistematik dari guru.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
menurut mereka mengembangkan model baru, yang dapat disebut sebagai sistem
pendidikan baru (modern). Dikatakan modern, karena sistem pendidikannya
berorientasi pada masyarakat yang terus berubah dan maju. Para anak didik
dipandang sebagai organism hidup, calon masyarakat, berasal dari masyarakatnya
pula.
Perubahan dan perkembangan ini membawa
implikasi terhadap pengembangan kurikulum. Kurikulum dipandang sebagai alat
menerapkan “pendidikan adalah di sini dan sekarang juga”. Kurikulum menjelaskan
bentuk baru yang disebut integrated
curriculum/ core curriculum. Tampaknya sistem ini lebih cocok dengan
pengembangan kurikulum pada sekolah-sekolah kita dilihat dari segi prinsip
berorientasi pada mutu, efisiensi, relevan dan penataan pendidikan.
C.
Pendekatan-Pendekatan
Kurikulum
Sudah sejak lama sekolah-sekolah kita
menganut pendekatan mata pelajaran. Namun sejak dilaksanakannya kurikulum 1968,
pendekatan kurikulum sudah nyata berubah. Perubahan asasi lebih jelas lagi
terasa setelah kita melaksanakan kurikulum 1975, kurikulum telah menggunakn
pendekatan interdisipliner. Pendekatan itu muncul sebagai pendekatan
structural, pendekatan fungsional/humanistik dan pendekatan lapangan.
Model-model pendekatan ini telah menjiwai kurikulum 1975, dengan berbagai
implikasinya dalam proses belajar mengajar dan evaluasi hasil belajar.
Para administrator kurikulum mengadakan
berbagai perbandingan dengan berbagai pendekatan lainnya, yang umumnya
dipergunakan baik dalam kurikulum maupun dalam perencanaan pendidikan.
Sebagai informasi dapat dikemukakan,
bahwa suatu kurikulum umumnya juga menggunakan berbagai alternatif pendekatan
sebagai berikut :
1.
Pendekatan
Kultural dan Pandangan Child-Centered
Pendekatan
cultural adalah suatu pendekatan yang bersumber dan berorientasi pada
kebudayaan. Jika pendekatan ini kita kaji lebih lanjut, maka akan kita temukan
sejumlah karakteristik, sebagai berikut:
1) Mengakui
bahwa manusia itu adalah suatu yang utuh, suatu keseluruhan yang memiliki
potensi yang luas dan lengkap.
2) Mengakui
kualitas manusia baik secara material maupun secara spiritual, yang mampu bekerja
dan menghadapi tuntutan-tuntutan sosial sekitarnya.
3) Sanggup
mengadakan perubahan-perubahan, sehingga tercapai keadaan yang lebih baik.
4) Manusia
yang seimbang, baik secara pribadi, hubungan dengan masyarakat dan alam. Dan
bangsa-bangsa lain serta dengan Tuhan.
5) Menjunjung
tinggi martabat manusiasebagai mahkluk Tuhan.
Berdasarkan
karakteristik tersebut, maka kita dapat menarik kesimpulan, bahwa pendekatan
cultural sejalan dengan pendekatan pengembangan kurikulum yang berpusat pada
anak (child centered). Kesimpulan ini dapat direkomendasikan dengan
konsep-konsep yang mendasari pandangan yang berpusat pada anak ini. Di antara
konsep-konsep yang penting, dapat kita petik dari uraian Hilda Taba, sebagai
berikut.
1) Fungsi
utama pendidikan adalah pengembangan individu. Peranan kreatif pendidikan
terutama ditekankan pada pengembangan individu yang kreatif. Usaha pendidikan
terpusat pada pengembangan semua kemampuan (powers) dalam diri individu,
terutama citra kreatif, kebebasan, keberuntungan, self discovery, kemampuan
jasmaniah dan emosional. Kurikulum untuk memenuhi minat dan kebutuhan para
siswa.
2) Kurikulum
atau program sekolah disusun untuk memenuhi kebutuhan individu dan memberikan
kesempatan sepenuhnya untuk merealisasikan diri, baik intelektual, emosional,
dan social dengan keseimbangan yang reasonable.
3) Konsep
pengembangan individu itu sendiri tak dilepaskan dari pengaruh kurikulum yang
berkaitan dengan fungsi social pendidikan. misalnya tentang pengembangan aspek
emosional secara langsung akan mengintrodusikan perlunya bimbingan dan
penciptaan suasana social yang menyenangkan di sekolah.
4) Pendidikan
sebagai instrument pengembangan individual, bahakan pada gilirannya memerluakan
kerja dalam kelompok untuk membahas masalah-masalah sosial.
5) Konsepsi
pengembangan individual pada akhirnya mencakup juga latar belakang social anak,
yang menimbulkan perbedaan-perbedaan individual. Kesempatan berkembang secara
individual memerluakan kesempatan yang luas dan sama bagi anak di sekolah. Ini
berarti, konsep demokrasi perlu dikembangkan.
Dengan uraian yang telah dikemukakan di
atas menggambarkan, bahwa kurikulum yang berpusat pada anak bukan hanya
bertujuan mengembangkan concerving forces
pada anak, tetapi juga berfungsi mengembangkan innovating forces untuk membantu individu-individu yang demokratis,
sedangkan concerving forces itu
sendiri sangat diperlukan sebagai manusia yang demokratis (human democracy).
2.
Pendekatan
Kultural dan Activity Curriculum
Pada satu sisi, terdapat kesamaan
antara pendekatan cultural dan
prinsip activity curriculum, sedang
sisi lain, adalah berbeda bahkan mungkin bertentangan.
Segi
kesamaannya. Pendekatan cultural mengakui martabat
manusia sebagai suatu yang utuh dan mengakui kualitas manusia, demikian halnya
prinsip activity curriculum mengakui
kabutuhan personal, minat personal, yang sedikit banyak mengakui pula hakikat
kamanusiaan anak.
Segi
perbedaannya. Terletak pada konsep-konsep sebagai
berikut:
1) Pendekatan
cultural berpijak pada pandangan,bahwa pendidikan adalah bagian dari
kebudayaan, sedangkan activity curriculum,
lebih menitikberatkan pada situasi dan kondisi masa sekarang, realita yang ada
dan yang actual.
2) Pendekatan
culturan cenderung menyetujui konsep belajar seumur hidup, sedangkan activity curriculum, belajar adalah
transaksi aktif melalui pengalaman langsung. Padahal banyak yang tidak dapat
dialami secara langsung, melainkan memerlukan penghayatan dalam situasi
abstrak.
3) Ruang
lingkup (scop) dan urutan (sequence) kurikulum ditentukan oleh
minat dan kebutuhan siswa sendiri sebagai selector,
hal ini tidak sejalan dengan pemikiran cultural, karena pelajaran terutama
ditentukan oleh sistem nilai masyarakat dankebudayaan, sejalan dengan
perubahan-perubahan masyarakat.
4) Activity curriculum
mengutamakan penggunaan metode problem
solving dan mempersiapkan tugas-tugas sendiri, sedangkan pendekatan
kultural juga menggunakan metode lainnya sehubungan dengan pewarisan dan
transoformasi kultural.
D.
Pengembangan
Komponen Tujuan Kurikulum
Tujuan kurikulum merupakan sasaran
yang hendak dicapai oleh suatu kurikulum. Karena itu tujuan dirumuskan
sedemikian rupa dengan mempertimbangkan berbagai factor, seperti:
1. Tujuan
pendidikan nasional, karena tujuan ini menjadi landasan bagi setiap lembaga
pendidikan.
2. Kesesuaian
antara tujuan kurikulum dan tujuan lembaga pendidikan yang bersangkutan.
3. Kesesuaian
tujuan kurikulum dengan kebutuhan masyarakat atau lapangan kerja, untuk mana
tenaga-tenaga akan dipersiapkan.
4. Kesesuaian
tujuan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.
5. Kesesuaian
tujuan kurikulum dengan sistem nilai dan aspirasi yang berlaku dalam
masyarakat.
Sebagai pedoman dalam merumuskan
tujuan kurikulum mungkin ada baiknya kita menggunakan pandangan Bloom dkk. yang
terkenal dengan “Taxonomy of Educational Objectives”. Domain-domain (wilayah)
yang dikembangkan Bloom tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk
mengkategorikan tujuan kurikulum. Kategori tersebut adalah sebagai berikut:
I.
The Cognitif Domain
1. The
Cognitif Domain
1.1 Knowledge
of specifics
1.1.1
Knowledge of specifics
1.1.2
Knowledge of specifics
fact
1.2 Knowledge
of way and means of dealing with specifics
1.2.1
Knowledge of
conversions
1.2.2
Knowledge of trends and
sequence
1.2.3
Knowledge of
classification and categories
1.2.4
Knowledge of Criteria
1.2.5
Knowledge of
methodology
1.3 Knowledge
of universal
1.3.1
Knowledge of principles
and generalization
1.3.2
Knowledge of theory and
structure
2. Comprehension
2.1 Translation
2.2 Intrpretion
2.3 Extrapolation
3. Application
4. Analysis
4.1 Analysis
of elements
4.2 Analysis
of relationship
4.3 Analysis
of of organization principles
5. Synthesis
5.1 Production
of unique communication
5.2 Production
of a plan or profesedet of operation
5.3 Derivation
of set of abstraction relation
6. Evaluation
6.1 Judgement
in term of internal evidence
6.2 Judgement
in term of external criteria
II.
The Affective Domain
1. Receiving
(Attending)
1.1 Awareness
1.2 Willingness
to reseive
1.3 Controlled
or selected attention
2. Responding
2.1 Acquicence
in responding
2.2 Willingness
to respond
2.3 Setisfaction
in response
3. Valuting
3.1 Acceptance
of value
3.2 Preference
of a value
3.3 Commitment
4. Organization
4.1 Conceptualization
of value
4.2 Organization
of vanue system
5. Caracterization
by a vanue ie vanue complex
5.1 Generalized
set
5.2 Characterization
III.
The Psycomotor Domain
1. Reflex
movements
1.1 Segmental
reflex
1.2 Intersegmental reflex
1.3 Suprasegmental reflex
2. Basic
fundamental movements
2.1 Locomotor
movement
2.2 Non-locomotor movement
2.3 Manipulative movement
3. Perceptual
activities
3.1 Kenestative
dissemination
3.2 Visual
dissemination
3.3 Audio
dissemination
3.4 Tectile
dissemination
3.5 Coordinated
dissemination
4. Physical
abilities
4.1 Endurance
4.2 Strategy
4.3 Flexibility
4.4 Agility
5. Skilled
movement
5.1 Simple
adaptive skill
5.2 Compound
adaptive skill
5.3 Complex
adaptive skill
6. Non
Discursive movement communication
6.1 Expressive
movement
6.2 Interpretative
movement
E.
Pengembangan
Komponen Belajar
Pandangan tentang belajar akan
mendasari kurikulum yang akan dilaksanakan. Kurikulum pada hakikatnya merupakan
suatu program belajar, artinya berdasarkan kurikulum maka disusunlah suatu
program belajar. Jadi kurikulum adalah suatu program belajar yang dengan
sengaja dan berencana untuk mencapai tujuan tertentu.
Dewasa ini kebanyakan kurikulum
didasarkan pada prinsip belajar siswa aktif. Artinya proses belajar itu, siswa
dituntut belajar secara aktif, melakukan kegiatan, merasakan adanya masalah dan
dia berusaha menemukan sendiri pemevahannya. Siswa dituntut belajar aktif,
namun guru pun harus aktif dalam merencanakan. Merancang pikiran siswa,
membimbing, menilai dan sebagainya. Jadi, tidak berarti siswa katif sedangkan
guru diam secara pasif. Pandangan ini bertentangan dengan pandangan-pandangan
tentang belajar secara aktif, atau guru saja yang aktif sedangkan murid pasif.
Dalam hubungan itu ada beberapa
prinsip belajar yang dapat dijadikan pegangan, yakni:
1. Belajar
senantiasa bertujuan.
2. Belajar
berdasarkan kebutuhan dan motivasi siswa.
3. Belajar
berarti mengorganisasi pengalaman.
4. Belajar
memerlukan pemahaman.
5. Belajar
bersifat keseluruhan (utuh atau umum), di samping khusus.
6. Belajar
memerlukan ulangan dan latihan.
7. Belajar
harus bersifat kontinu (ajeg).
8. Dalam
proses belajar senantiasa terdapat hambatan-hambatan.
9. Hasil
belajar adalah dalam bentuk perubahan perilaku siswa secara menyeluruh.
Prinsip-prinsip belajar tersebut
umumnya telah menjadi kesimpulan semua ahli psikologi belajar. Karena itu
prinsip-prinsip ini perlu dipertimbangkan dalam perencanaan kurikulum.
F.
Pengembangan
Komponen Siswa (Subjek Didik)
Berhasil tidaknya suatu kurikulum banyak
tergantung pada kesesuaian isi kurikulum dan pihak yang menyerapnya. Pengakuan
pendidik terhadap anak sebagai individu yang sedang berkembang, yang memiliki
potensi untuk berkembang, yang berada satu sama lainnya secara individual, yang
amampu bereaksi dan berinteraksi, yang mampu menerima, yang kreatif, dan
berusaha menyusun kurikulum. Karena itu kita tidak dapat menolak kanyataan
bahwa menyusun kurikulum untuk siswa sekolah dasar berbeda dengan kurikulum
yang sengaja disusun untuk siswa SMU dan siswa di sekolah masyarakat
(pendidikan nonformal).
Pandangan tentang siswa juga sangat
berpengaruh terhadap penentuan strategi instruksional di kelas. Bahwa patut
pula diperhatikan, bahwa antara siswa satu sama lainnya dalam kelompok/kelas
yang sama sudah tentu berbeda-beda, baik secara implikasi yang jauh terhadap
pembinaan dan pengembangan kurikulum dan strategi belajar mengajar.
G.
Pengembangan
Komponen Kemasyarakatan
Kurikulum harus mempertimbangkan
masyarakat dalam semua aspek, sesuai dengan sistem kepercayaan, sistem nilai,
sistem kebutuhan yang terpadu dalam masyarakat. Kenyataan ini memang sulit
dihindari tetapi lebih sulit lagi melaksanakannya dalam rangka perencanaan
kurikulum. Kurikulum harus sejalan dengan tuntutan dalam pembangunan, maka masalahnya
akan lebih jelas. Kurikulum harus memberikan andilnya dalam membentuk tenaga
pembangunan yang kriatif, kritis dan inovatif, yang terampil dan produktif,
atau tenaga pelaksana dalam lapangan kependudukan dan keluarga berencana yang
melaksanakan tugas-tugas di masyarakat.
Untuk mengetahui bagaimana
keinginan, kebutuhan, tuntutan, masalah, dan semua aspirasi di masyarakat,
sebaiknya dilakukan survey pendahuluain (survei lapangan dan survey
dokumenter). Dengan survey dokumenter, kita dapat membaca semua dokumen
tertulis yang telah ada dari semua sumber yang tersedia. Dengan survey
lapangan, kita dapat memperoleh gambaran tettang aspirasi masyarakat yang
sedang berkembang dewasa ini dan lingkungan tertenti seperti : keluarga,
masyarakat desa, masyarakat kota, kelompok-kelompok social tertentu, dan jika
perlu dapat juga diperoleh dari kelompok masyarakat yang tergolong sector
“informal” (tuna karya, tuna wisma, tuna susila, dan sebagainya).
H.
Pengembangan
Komponen Organisasi Materi Kurikulum
Sering terjadi suatu kekeliruan,
yang tampaknya kurang berarti, tetapi ternyata besar pengaruhnya. Kekeliruan
itu adalah, perencanaan kurikulum langsung menentukan isinya atau materi
kurikulum. Penentuan materi itu
didasarkan pada tersedianya buku/diktat pelajaran tertentu. Kita lupa, bahwa
materi/isi kurikulum yang disusun itu adalah untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan, bahwa kurikulum yang direncanakan itu seharusnya mengikuti pola,
organisasi tertentu.
Jika kita bermaksud merancang isi
kurikulum, maka kriteria berikut ini dapat dijadikan pedoman, yakni:
1. Kriteria
dalam hubungan dengan tujuan pendidikan.
a. Apa
isi kurikulum yang direncanakan itu bermakna dan benar-benar valid serta
berguna untuk menafsirkan, memahami dan menilai kehidupan yang kontemporer?
b. Apakah
isi kurikulum yang direncanakan itu bertalian dengan masalah-masalah kehidupan?
c. Apakah
isi kurikulum tersebut bermaksud memajuakan pertumbuhan dan perkembangan yang
seimbang pada diri siswa bersangkutan sesui dengan tujuan yang telah
dirumuskan?
d. Apa
isi kurikulum yang direncanakan itu akan memberikan sumbangan terhadap
pelaksanaan peranan-peranan kurikulum (konservatif, ecaluatif, kreatif)
2. Kriteria
sehubungan dengan sifat siswa.
a. Apa
isi kurikulum itu berguna untuk member kepuasan terhadap usaha menjawab tantangan,
minat dan masalah para siswa?
b. Apa
isi kurikulum tersebut sesuai dengan tingkat perkembangan, kematangan dan latar
belakang pengalaman siswa?
c. Apa
isi kurikulum tersebut mampu mengadaptasikan dan melayani perbedaan individual
para siswa
3. Kriteria
yang bertalian dengan proses pendidikan.
a. Apa
isi kurikulum itu membantu terciptanya situasai belajar yang berkesinambungan,
dan interaktif, sehingga para siswa dapat tumbuh dan berkembang secara efektif,
efisien, dan mandiri?
b. Apa
isi kurikulum yang direncanakan itu mampu mengembangkan kemampuan asosiasi pada
diri siswa dengan kehidupan sehari-hari dalam masyarakat?
c. Apa
isi kurikulum itu mengandung motivasi intrinsik pada diri siswa yang mendorong
kegiatan belajar?
d. Apa
isi kurikulum tersebut menjamin keseimbangan antara bidang-bidang studi dan
menjamin keseimbangan dengan kekuatan-kekuatan pendidik lainnya.
Bentuk organisasi kurikulum yang
akan dipergunakan juga hendaknya memperhatikan beberapa faktor, yakni: urutan
bahan pelajaran,ruang lingkup dan penempatan bahan pelajaran.
Kurikulum yang berpusat pada mata
pelajaran, urutan bahan, ruang lingkup dan penempatannya disesuaikan dengan
karakteristik masing-masing mata pelajaran tersebut.
Kurikulum yang berkorelasi, yang
umumnya tersusun dalam bentuk bidang studi urutan pokok bahasan didukung oleh
sejumlah bahan dari mata pelajaran yang tercakup dalam studi tersebut.
Kurikulum terintegrasi pada
unit-unit pengajaran, yang masing-masing unit didukung oleh sejumlah mata
pelajaran atau bidang studi.
Dengan demikian, masing-masing
bentuk kurikulum tersebut harus memperhatikan karakteristik materi yang
terkandung pada unsur-unsur pendukungnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar