widget

Kamis, 08 Januari 2015

PENGEMBANGAN KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM



A.    Pendahuluan
Pengembangan kurikulum secara menyeluruh tak mungkin dipisahkan dari perkembangan sistem pendidikan nasional dalam urutan waktu. Pengembangan kurikulum tak mungkin dipisahkan dari perkembangan komponen yang mendasari perencanaan dan pengembangan kurikulum  Komponen-komponen itu adalah : (1) perkembangan tujuan pendidikan, (2) perkembangan teori belajar, (3) perkembangan siswa, (4) perkembangan kultur, dan (5) perkembangan bentuk kurikulum yang digunakan.

B.     Perkembangan Pola Pendidikan
Dalam sejarah pendidikan, kita mengenal terjadinya perkembangan pendidikan dalam tiga periode yakni : pendidikan tradisional, pendidikan progresif, dan pendidikan modern. Pendidikan tradisional senantiasa bertitik tolak pada pemikiran bahwa tujuan pendidikan semata-mata untuk mengembangkan kualitas intelektual anak/siswa. Mata-mata ajaran dengan buku sebagai satu-satunya sumber serta penggunaan metode formal step sebagai satu-satunya metode mengajar, semuanya merupakan ciri khas dari pendidikan tradisional.
Pendidikan pada zaman penjajahan dulu, sedikit banyak meninggalkan bekas. Dalam betuk adanya kesadaran bahwa pendidikan praktis tampaknya perlu dilaksanakan. Hal itu telah diterapkan pula dalam sistem pendidikan dewasa ini, dalam bentuk teori dan praktek, yang tercermin dalam kurikulum 1975.
Pada kurun waktu berikutnya, muncul reaksi terhadap sistem pendidikan tradisional itu, yang disebut pendidikan progresif. Dikatakan progresif karena orientasi sebelumnya. Pendidikan dipandang sebagai suatu usaha untuk mengembangkan pribadi anak. Kebebasan mutlak dan pengakuan sepenuhnya terhadap sang anak akan menimbulkan akibat bahwa sang anak sesungguhnya masih perlu bimbingan secara sistematik dari guru.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menurut mereka mengembangkan model baru, yang dapat disebut sebagai sistem pendidikan baru (modern). Dikatakan modern, karena sistem pendidikannya berorientasi pada masyarakat yang terus berubah dan maju. Para anak didik dipandang sebagai organism hidup, calon masyarakat, berasal dari masyarakatnya pula.
Perubahan dan perkembangan ini membawa implikasi terhadap pengembangan kurikulum. Kurikulum dipandang sebagai alat menerapkan “pendidikan adalah di sini dan sekarang juga”. Kurikulum menjelaskan bentuk baru yang disebut integrated curriculum/ core curriculum. Tampaknya sistem ini lebih cocok dengan pengembangan kurikulum pada sekolah-sekolah kita dilihat dari segi prinsip berorientasi pada mutu, efisiensi, relevan dan penataan pendidikan.
   
C.    Pendekatan-Pendekatan Kurikulum
Sudah sejak lama sekolah-sekolah kita menganut pendekatan mata pelajaran. Namun sejak dilaksanakannya kurikulum 1968, pendekatan kurikulum sudah nyata berubah. Perubahan asasi lebih jelas lagi terasa setelah kita melaksanakan kurikulum 1975, kurikulum telah menggunakn pendekatan interdisipliner. Pendekatan itu muncul sebagai pendekatan structural, pendekatan fungsional/humanistik dan pendekatan lapangan. Model-model pendekatan ini telah menjiwai kurikulum 1975, dengan berbagai implikasinya dalam proses belajar mengajar dan evaluasi hasil belajar.
Para administrator kurikulum mengadakan berbagai perbandingan dengan berbagai pendekatan lainnya, yang umumnya dipergunakan baik dalam kurikulum maupun dalam perencanaan pendidikan. Sebagai  informasi dapat dikemukakan, bahwa suatu kurikulum umumnya juga menggunakan berbagai alternatif pendekatan sebagai berikut :


1.      Pendekatan Kultural dan Pandangan Child-Centered
Pendekatan cultural adalah suatu pendekatan yang bersumber dan berorientasi pada kebudayaan. Jika pendekatan ini kita kaji lebih lanjut, maka akan kita temukan sejumlah karakteristik, sebagai berikut:
1)      Mengakui bahwa manusia itu adalah suatu yang utuh, suatu keseluruhan yang memiliki potensi yang luas dan lengkap.
2)      Mengakui kualitas manusia baik secara material maupun secara spiritual, yang mampu bekerja dan menghadapi tuntutan-tuntutan sosial sekitarnya.
3)      Sanggup mengadakan perubahan-perubahan, sehingga tercapai keadaan yang lebih baik.
4)      Manusia yang seimbang, baik secara pribadi, hubungan dengan masyarakat dan alam. Dan bangsa-bangsa lain serta dengan Tuhan.
5)      Menjunjung tinggi martabat manusiasebagai mahkluk Tuhan.
Berdasarkan karakteristik tersebut, maka kita dapat menarik kesimpulan, bahwa pendekatan cultural sejalan dengan pendekatan pengembangan kurikulum yang berpusat pada anak (child centered). Kesimpulan ini dapat direkomendasikan dengan konsep-konsep yang mendasari pandangan yang berpusat pada anak ini. Di antara konsep-konsep yang penting, dapat kita petik dari uraian Hilda Taba, sebagai berikut.
1)   Fungsi utama pendidikan adalah pengembangan individu. Peranan kreatif pendidikan terutama ditekankan pada pengembangan individu yang kreatif. Usaha pendidikan terpusat pada pengembangan semua kemampuan (powers) dalam diri individu, terutama citra kreatif, kebebasan, keberuntungan, self discovery, kemampuan jasmaniah dan emosional. Kurikulum untuk memenuhi minat dan kebutuhan para siswa.
2)   Kurikulum atau program sekolah disusun untuk memenuhi kebutuhan individu dan memberikan kesempatan sepenuhnya untuk merealisasikan diri, baik intelektual, emosional, dan social dengan keseimbangan yang reasonable.
3)   Konsep pengembangan individu itu sendiri tak dilepaskan dari pengaruh kurikulum yang berkaitan dengan fungsi social pendidikan. misalnya tentang pengembangan aspek emosional secara langsung akan mengintrodusikan perlunya bimbingan dan penciptaan suasana social yang menyenangkan di sekolah.
4)   Pendidikan sebagai instrument pengembangan individual, bahakan pada gilirannya memerluakan kerja dalam kelompok untuk membahas masalah-masalah sosial.
5)   Konsepsi pengembangan individual pada akhirnya mencakup juga latar belakang social anak, yang menimbulkan perbedaan-perbedaan individual. Kesempatan berkembang secara individual memerluakan kesempatan yang luas dan sama bagi anak di sekolah. Ini berarti, konsep demokrasi perlu dikembangkan.

Dengan uraian yang telah dikemukakan di atas menggambarkan, bahwa kurikulum yang berpusat pada anak bukan hanya bertujuan mengembangkan concerving forces pada anak, tetapi juga berfungsi mengembangkan innovating forces untuk membantu individu-individu yang demokratis, sedangkan concerving forces itu sendiri sangat diperlukan sebagai manusia yang demokratis (human democracy).

2.    Pendekatan Kultural dan Activity Curriculum
Pada satu sisi, terdapat kesamaan antara pendekatan cultural dan prinsip activity curriculum, sedang sisi lain, adalah berbeda bahkan mungkin bertentangan.
Segi kesamaannya. Pendekatan cultural mengakui martabat manusia sebagai suatu yang utuh dan mengakui kualitas manusia, demikian halnya prinsip activity curriculum mengakui kabutuhan personal, minat personal, yang sedikit banyak mengakui pula hakikat kamanusiaan anak.
Segi perbedaannya. Terletak pada konsep-konsep sebagai berikut:
1)   Pendekatan cultural berpijak pada pandangan,bahwa pendidikan adalah bagian dari kebudayaan, sedangkan activity curriculum, lebih menitikberatkan pada situasi dan kondisi masa sekarang, realita yang ada dan yang actual.
2)   Pendekatan culturan cenderung menyetujui konsep belajar seumur hidup, sedangkan activity curriculum, belajar adalah transaksi aktif melalui pengalaman langsung. Padahal banyak yang tidak dapat dialami secara langsung, melainkan memerlukan penghayatan dalam situasi abstrak.
3)   Ruang lingkup (scop) dan urutan (sequence) kurikulum ditentukan oleh minat dan kebutuhan siswa sendiri sebagai selector, hal ini tidak sejalan dengan pemikiran cultural, karena pelajaran terutama ditentukan oleh sistem nilai masyarakat dankebudayaan, sejalan dengan perubahan-perubahan masyarakat.
4)   Activity curriculum mengutamakan penggunaan metode problem solving dan mempersiapkan tugas-tugas sendiri, sedangkan pendekatan kultural juga menggunakan metode lainnya sehubungan dengan pewarisan dan transoformasi kultural.

D.    Pengembangan Komponen Tujuan Kurikulum
Tujuan kurikulum merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh suatu kurikulum. Karena itu tujuan dirumuskan sedemikian rupa dengan mempertimbangkan berbagai factor, seperti:
1.      Tujuan pendidikan nasional, karena tujuan ini menjadi landasan bagi setiap lembaga pendidikan.
2.      Kesesuaian antara tujuan kurikulum dan tujuan lembaga pendidikan yang bersangkutan.
3.      Kesesuaian tujuan kurikulum dengan kebutuhan masyarakat atau lapangan kerja, untuk mana tenaga-tenaga akan dipersiapkan.
4.      Kesesuaian tujuan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.
5.      Kesesuaian tujuan kurikulum dengan sistem nilai dan aspirasi yang berlaku dalam masyarakat.

Sebagai pedoman dalam merumuskan tujuan kurikulum mungkin ada baiknya kita menggunakan pandangan Bloom dkk. yang terkenal dengan “Taxonomy of Educational Objectives”. Domain-domain (wilayah) yang dikembangkan Bloom tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk mengkategorikan tujuan kurikulum. Kategori tersebut adalah sebagai berikut:
I.                   The Cognitif Domain
1.      The Cognitif Domain
1.1  Knowledge of specifics
1.1.1        Knowledge of specifics
1.1.2        Knowledge of specifics fact
1.2  Knowledge of way and means of dealing with specifics
1.2.1        Knowledge of conversions
1.2.2        Knowledge of trends and sequence
1.2.3        Knowledge of classification and categories
1.2.4        Knowledge of Criteria
1.2.5        Knowledge of methodology
1.3  Knowledge of universal
1.3.1        Knowledge of principles and generalization
1.3.2        Knowledge of theory and structure
2.      Comprehension
2.1  Translation
2.2  Intrpretion
2.3  Extrapolation
3.      Application
4.      Analysis
4.1  Analysis of elements
4.2  Analysis of relationship
4.3  Analysis of of organization principles
5.      Synthesis
5.1  Production of unique communication
5.2  Production of a plan or profesedet of operation
5.3  Derivation of set of abstraction relation
6.      Evaluation
6.1  Judgement in term of internal evidence
6.2  Judgement in term of external criteria
II.                The Affective Domain
1.      Receiving (Attending)
1.1  Awareness
1.2  Willingness to reseive
1.3  Controlled or selected attention
2.      Responding
2.1  Acquicence in responding
2.2  Willingness to respond
2.3  Setisfaction in response
3.      Valuting
3.1  Acceptance of value
3.2  Preference of a value
3.3  Commitment
4.      Organization
4.1  Conceptualization of value
4.2  Organization of vanue system
5.      Caracterization by a vanue ie vanue complex
5.1  Generalized set
5.2   Characterization

III.             The Psycomotor Domain
1.      Reflex movements
1.1  Segmental reflex
1.2   Intersegmental reflex
1.3   Suprasegmental reflex
2.      Basic fundamental movements
2.1  Locomotor movement
2.2   Non-locomotor movement
2.3   Manipulative movement
3.      Perceptual activities
3.1  Kenestative dissemination
3.2  Visual dissemination
3.3  Audio dissemination
3.4  Tectile dissemination
3.5  Coordinated dissemination
4.      Physical abilities
4.1  Endurance
4.2  Strategy
4.3  Flexibility
4.4  Agility
5.      Skilled movement
5.1  Simple adaptive skill
5.2  Compound adaptive skill
5.3  Complex adaptive skill
6.      Non Discursive movement communication
6.1  Expressive movement
6.2  Interpretative movement

E.     Pengembangan Komponen Belajar
Pandangan tentang belajar akan mendasari kurikulum yang akan dilaksanakan. Kurikulum pada hakikatnya merupakan suatu program belajar, artinya berdasarkan kurikulum maka disusunlah suatu program belajar. Jadi kurikulum adalah suatu program belajar yang dengan sengaja dan berencana untuk mencapai tujuan tertentu.
Dewasa ini kebanyakan kurikulum didasarkan pada prinsip belajar siswa aktif. Artinya proses belajar itu, siswa dituntut belajar secara aktif, melakukan kegiatan, merasakan adanya masalah dan dia berusaha menemukan sendiri pemevahannya. Siswa dituntut belajar aktif, namun guru pun harus aktif dalam merencanakan. Merancang pikiran siswa, membimbing, menilai dan sebagainya. Jadi, tidak berarti siswa katif sedangkan guru diam secara pasif. Pandangan ini bertentangan dengan pandangan-pandangan tentang belajar secara aktif, atau guru saja yang aktif sedangkan murid pasif.
Dalam hubungan itu ada beberapa prinsip belajar yang dapat dijadikan pegangan, yakni:
1.      Belajar senantiasa bertujuan.
2.      Belajar berdasarkan kebutuhan dan motivasi siswa.
3.      Belajar berarti mengorganisasi pengalaman.
4.      Belajar memerlukan pemahaman.
5.      Belajar bersifat keseluruhan (utuh atau umum), di samping khusus.
6.      Belajar memerlukan ulangan dan latihan.
7.      Belajar harus bersifat kontinu (ajeg).
8.      Dalam proses belajar senantiasa terdapat hambatan-hambatan.
9.      Hasil belajar adalah dalam bentuk perubahan perilaku siswa secara menyeluruh.
Prinsip-prinsip belajar tersebut umumnya telah menjadi kesimpulan semua ahli psikologi belajar. Karena itu prinsip-prinsip ini perlu dipertimbangkan dalam perencanaan kurikulum.

F.     Pengembangan Komponen Siswa (Subjek Didik)
Berhasil tidaknya suatu kurikulum banyak tergantung pada kesesuaian isi kurikulum dan pihak yang menyerapnya. Pengakuan pendidik terhadap anak sebagai individu yang sedang berkembang, yang memiliki potensi untuk berkembang, yang berada satu sama lainnya secara individual, yang amampu bereaksi dan berinteraksi, yang mampu menerima, yang kreatif, dan berusaha menyusun kurikulum. Karena itu kita tidak dapat menolak kanyataan bahwa menyusun kurikulum untuk siswa sekolah dasar berbeda dengan kurikulum yang sengaja disusun untuk siswa SMU dan siswa di sekolah masyarakat (pendidikan nonformal).
Pandangan tentang siswa juga sangat berpengaruh terhadap penentuan strategi instruksional di kelas. Bahwa patut pula diperhatikan, bahwa antara siswa satu sama lainnya dalam kelompok/kelas yang sama sudah tentu berbeda-beda, baik secara implikasi yang jauh terhadap pembinaan dan pengembangan kurikulum dan strategi belajar mengajar.

G.  Pengembangan Komponen Kemasyarakatan
Kurikulum harus mempertimbangkan masyarakat dalam semua aspek, sesuai dengan sistem kepercayaan, sistem nilai, sistem kebutuhan yang terpadu dalam masyarakat. Kenyataan ini memang sulit dihindari tetapi lebih sulit lagi melaksanakannya dalam rangka perencanaan kurikulum. Kurikulum harus sejalan dengan tuntutan dalam pembangunan, maka masalahnya akan lebih jelas. Kurikulum harus memberikan andilnya dalam membentuk tenaga pembangunan yang kriatif, kritis dan inovatif, yang terampil dan produktif, atau tenaga pelaksana dalam lapangan kependudukan dan keluarga berencana yang melaksanakan tugas-tugas di masyarakat.
Untuk mengetahui bagaimana keinginan, kebutuhan, tuntutan, masalah, dan semua aspirasi di masyarakat, sebaiknya dilakukan survey pendahuluain (survei lapangan dan survey dokumenter). Dengan survey dokumenter, kita dapat membaca semua dokumen tertulis yang telah ada dari semua sumber yang tersedia. Dengan survey lapangan, kita dapat memperoleh gambaran tettang aspirasi masyarakat yang sedang berkembang dewasa ini dan lingkungan tertenti seperti : keluarga, masyarakat desa, masyarakat kota, kelompok-kelompok social tertentu, dan jika perlu dapat juga diperoleh dari kelompok masyarakat yang tergolong sector “informal” (tuna karya, tuna wisma, tuna susila,  dan sebagainya).

H.      Pengembangan Komponen Organisasi Materi Kurikulum
Sering terjadi suatu kekeliruan, yang tampaknya kurang berarti, tetapi ternyata besar pengaruhnya. Kekeliruan itu adalah, perencanaan kurikulum langsung menentukan isinya atau materi kurikulum. Penentuan  materi itu didasarkan pada tersedianya buku/diktat pelajaran tertentu. Kita lupa, bahwa materi/isi kurikulum yang disusun itu adalah untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, bahwa kurikulum yang direncanakan itu seharusnya mengikuti pola, organisasi tertentu.
Jika kita bermaksud merancang isi kurikulum, maka kriteria berikut ini dapat dijadikan pedoman, yakni:
1.      Kriteria dalam hubungan dengan tujuan pendidikan.
a.       Apa isi kurikulum yang direncanakan itu bermakna dan benar-benar valid serta berguna untuk menafsirkan, memahami dan menilai kehidupan yang kontemporer?
b.      Apakah isi kurikulum yang direncanakan itu bertalian dengan masalah-masalah kehidupan?
c.       Apakah isi kurikulum tersebut bermaksud memajuakan pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang pada diri siswa bersangkutan sesui dengan tujuan yang telah dirumuskan?
d.      Apa isi kurikulum yang direncanakan itu akan memberikan sumbangan terhadap pelaksanaan peranan-peranan kurikulum (konservatif, ecaluatif, kreatif)
2.      Kriteria sehubungan dengan sifat siswa.
a.       Apa isi kurikulum itu berguna untuk member kepuasan terhadap usaha menjawab tantangan, minat dan masalah para siswa?
b.      Apa isi kurikulum tersebut sesuai dengan tingkat perkembangan, kematangan dan latar belakang pengalaman siswa?
c.       Apa isi kurikulum tersebut mampu mengadaptasikan dan melayani perbedaan individual para siswa
3.    Kriteria yang bertalian dengan proses pendidikan.
a.       Apa isi kurikulum itu membantu terciptanya situasai belajar yang berkesinambungan, dan interaktif, sehingga para siswa dapat tumbuh dan berkembang secara efektif, efisien, dan mandiri?
b.      Apa isi kurikulum yang direncanakan itu mampu mengembangkan kemampuan asosiasi pada diri siswa dengan kehidupan sehari-hari dalam masyarakat?
c.       Apa isi kurikulum itu mengandung motivasi intrinsik pada diri siswa yang mendorong kegiatan belajar?
d.      Apa isi kurikulum tersebut menjamin keseimbangan antara bidang-bidang studi dan menjamin keseimbangan dengan kekuatan-kekuatan pendidik lainnya.

Bentuk organisasi kurikulum yang akan dipergunakan juga hendaknya memperhatikan beberapa faktor, yakni: urutan bahan pelajaran,ruang lingkup dan penempatan bahan pelajaran. 
Kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran, urutan bahan, ruang lingkup dan penempatannya disesuaikan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran tersebut.
Kurikulum yang berkorelasi, yang umumnya tersusun dalam bentuk bidang studi urutan pokok bahasan didukung oleh sejumlah bahan dari mata pelajaran yang tercakup dalam studi tersebut.
Kurikulum terintegrasi pada unit-unit pengajaran, yang masing-masing unit didukung oleh sejumlah mata pelajaran atau bidang studi.
Dengan demikian, masing-masing bentuk kurikulum tersebut harus memperhatikan karakteristik materi yang terkandung pada unsur-unsur pendukungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar